Manis Dalam Pahit – Filosofi Kopi

Oleh Budi Citawan

28 February, 2018
974 Views

“Bikin kopi itu gak cuma pake otak, tapi pake hati!”

Setelah secangkir kopi hitam kegemaran beliau, Budi Citawan menerokai dunia kopi dan filosofi yang mendalam dan sejati.

Saya menghabiskan sisa-sisa waktu liburan saya di Jakarta, dan saya sudah pun mendengar tentang ‘Filosofi Kopi’ sudah lama, sejak di Kuala Lumpur lagi. Satu perbezaan di antara Malaysia dan Indonesia adalah karya seni dari sana juga jalannya untuk dipromosikan di Malaysia. Tidak dinafikan PR kampanye yang dibuat sejak tahun lalu di 2014 ternyata pas, terutama sekali melalui media-media sosial. Lantas saya fikir tentunya filem ini ingin menarik anak-anak muda dan juga penggemar kopi seperti saya (yang masih muda).

Filem ini mengisahkan cerita Ben (Chicco Jericho), seorang anak petani kopi yang juga tumbuh dan berkembang di perkebunan kopi. Pada umur 12 tahun, beliau meninggalkan orang tuanya dan bertemu dengan Jody (Rio Dewanto). Diasuh oleh orang tuanya Jody, mereka menjadi sahabat akrab sehingga dewasa, pada masa mereka membangunkan sebuah kedai kopi bernama… Filosofi Kopi.

Namun mereka menghadapi banyak cabaran yang berlainan. Hutang mengancam pendirian Filosofi Kopi, satu benih yang melahirkan konflik di antara mereka. Pada masa yang sama, tiba kehadiran seorang pengusaha yang sanggup menyelamatkan kedai kopi mereka. Dengan keahliannya yang tinggi, Ben meracik kopi yang dinama Perfecto. Adakah mereka akan berjaya untuk menyelamatkan kedai kopi dan juga persahabatan mereka, selain dari mencari erti mendalam yang lebih bermakna dalam kehidupan ini?

Bagi mereka yang kurang tahu, filem ini adalah adaptasi dari sebuah novel hasil karya penulis yang tidak asing lagi di duni sastera Indonesia, Dewi ‘Dee’ Lestari. Beliau telah terbitkan beberapa buah buku yang diterima oleh orang ramai, seperi siri ‘Supernova’, ‘Rectoverso’ dan juga ‘Perahu Kertas’; kedua buku terakhir itu telah diadaptasikan sebagai filem. Tulisan-tulisan Dee Lestari bisa membuatkan kita jatuh cinta dan membuat hati terenyuh. Bagi ‘Filosofi Kopi’, versi filem ini juga berjaya dikemas rapi oleh sutradara muda, Angga Dwimas Sasongko. Scoringnya juga keren. Good job Glenn Fredly!

Saya baru tahu secangkir kopi yang dihirup punyai filosofinya yang tersendiri. Filosofi secawan cappuccino, misalnya, memberi erti buat orang yang menyukai kelembutan dan juga keindahan. Kopi paling genit. Itu adalah petikan kata-kata yang diucapkan Ben Si Barista. Kopi tubruk artinya lugu, sederhana tetapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Komunikasi antara barista dengan penikmatnya, barista sebagai pengantar aroma, juga peracik rasa untuk kemudian disajikan kehadapan khalayak ramai melalui kopi. Percaya atau tidak, itu hakikat. Kopigrafi adalah komunikasi.

Pertama kali saya kenal judul ini saya langsung jatuh hati. Semuanya mengandung magnet. Mulai dari kopinya, penulis novelnya, mutiara katanya, visualnya dan pemainnya, ia hasil kombinasi unik dari pesona kopi dan filosofi kehidupan sekaligus dengan takaran yang pas dan semangat yang tinggi. Jujur saya katakan bahwa ‘Filosofi Kopi’ ini sebuah filem Indonesia yang menarik sekali. Jalan ceritanya ringkas dengan seni senimatografi yang indah, pemilihan karakter yang hidup dan bisa diertikan dalam kehidupan kita. ‘Filosofi Kopi’ menyajikan cerita-cerita kopi: ada yang manis dan juga pahit. Ini cerita persahabatan, cinta dan perjuangan menemukan jati diri bisa juga difahami.

Tema yang dibawa dalam ‘Filosofi Kopi’ berjaya halus digarap. Apa yang penulis dan sutradara mahu ungkaikan adalah kopi itu kita, yang beraneka aroma dan warna. Ada yang plain dan ada juga kompleksnya. Kita punya ego, kelebihan masing-masing namun kita hanya manusia, hidup pada udara yang sama. ‘Filosofi Kopi’ memberi cerita yang sangat-sangat mendalam. Seperti Kopi Tiwus, pemprosesan dan buatannya gampang dan warnanya hitam. Apapun warnanya, hidup tak ada yang sempurna, hidup ini sudah indah begini adanya.

Kesemua kata-kata di dalam setiap penceritaan memberi maknanya sendiri, terutama sekali dalam babak ketika Ben pulang bertemu ayahnya. Segala nasihat yang diberikan bisa mengalir airmata. Berdasarkan filem ini saya jadi mulai belajar untuk menerima apa yang saya ada sekarang, apa yang ada disekeliling saya sekarang, semua itu udah ada tempatnya masing-masing, udah ada takarannya masing-masing. Jadi lakukanlah sesuatu dengan hati bukan obsesi.

‘Filosofi Kopi’ menceritakan tentang persahabatan dua orang pria yang bisa dijadikan contoh yang ternyata memang ada. Seiring berjalannya waktu, karya seperti ini bisa memberi inspirasi, mempengaruhi cara kita berfikir dan cara kita memandang hidup. Pendalaman karakter oleh pemain utamanya sangat kental. Saya berasa senang sekali melihat Ben & Joni lakonan Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. Mereka punyai chemistry yang sangat menakjubkan. Tidak hairan Chicco pada tahun lepas diangkat sebagai Peran Terbaik di Anugrah Citra Indonesia. Lakonannya bersahaja namun impaknya luar biasa. Di sini, mereka ada sebuah film yang indah dibuat, jalan cerita yang sederhana dan menarik. Saya yakin Indonesia tentu bangga ada film segini!

BUDI CITAWAN

You may be interested

Jentikan Semiotik Berbisa Sinema One Two Jaga (2018)
Pendidikan
183 views
Pendidikan
183 views

Jentikan Semiotik Berbisa Sinema One Two Jaga (2018)

Daniyal Kadir - 1 December, 2018

Tulisan ini telah memenangi Hadiah Sastera Selangor 2018 Kategori Esei pada 30 November 2018. Tidaklah berlebihan jika prop sinema One…

Kejujuran Yang Hilang Dalam Bohemian Rhapsody
Ulasan Filem
420 views
Ulasan Filem
420 views

Kejujuran Yang Hilang Dalam Bohemian Rhapsody

Kakisinema - 17 November, 2018

Bohemian Rhapsody; filem biopic kumpulan rock legenda Queen dicanang dengan tagline; The only thing more extraordinary than their music is…

Trailer Bukan Filem!
Pendidikan
223 views
Pendidikan
223 views

Trailer Bukan Filem!

Daniyal Kadir - 11 November, 2018

Baru-baru ini trailer filem Polis Evo 2 telah muncul di laman sosial dan ia merupakan perkara biasa sebagai sebahagian daripada…